Apa Itu Puisi Epik? Berikut Penjelasan, Ciri- ciri dan Contohnya

Balerumah.com – Pada perjalanannya, puisi epik sering dikaitkan dengan kisah-kisah klasik seperti perang, militer, dan tentang apa pun yang menceritakan kepahlawanan. Karena kisah-kisah itu memuat banyak peristiwa, maka hampir semua puisi epik ini bersifat naratif, dan kebanyakan tulisannya pun panjang. Namun, panjang atau pendeknya sebuah puisi, kini bukan lagi hal yang mutlak.
Via: Pixabay
Puisi dengan tulisan yang panjang dan naratif, belum tentu bisa disebut epik. Kecuali bila di dalamnya terdapa peristiwa peperangan dan kepahlawanan. Karena sebagaimana kata epik yang berasal dari bahasa latin,epicus. Dalam bahasa Yunani epikos, yang kemudian menurunkan kata epos. Di Indonesia, epik dan epos sering digunakan dengan arti yang sama, yaitu cerita kepahlawanan.

Baca juga: Mengenal 15 Macam Majas Perbandingan


Padahal, kita tahu bahwa kata epik dan epos berbeda maknanya. Epik adalah sifatnya, sedangkan epos adalah bendanya. Puisi bisa bersifat epik, tapi sebenarnya tidak ada puisi jenis epik. Sama seperti halnya dengan “manusia bersifat hewan, tapi sebenarnya tidak ada manusia jenis hewan.” Hewan adalah sifatnya, sedangkan manusia adalah bendanya. Penjelasan semacam itulah yang mestinya kita pahami.

Secara ringkas, dapat disebutkan ciri-ciri puisi epik sebagai berikut:
1. Muncul sosok pahlawan yang dikagumi karena ehebatannya
2. Latar dalam puisi bersifat universal, yang berlaku dalam lingkup luas
3. keberanian tokoh menjadi bagian yang penting dalam tema
4. Terdapat keterlibatan kekuatan supranatural
5. Gaya dalam puisi menggambarkan kepahlawanan yang objektif

Dari semua ciri-ciri yang ada di atas, tentu tidak semuanya mesti ada di dalam puisi. Paing tidak ada dua atau tiga poin yang terkandung dalam puisi tersbut.

Saya akan memberikan salah satu contoh puisi epik.

Jante Arkidam
Ajip Rosidi

Sepasang biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia terbang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi dilengkungkannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di pejudian di pelataran
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadean

Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

"Mantri polisi lihat kemari!
Bakar meja judi dengan uangku sepenuh saku
Wedana jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi!."

Berpandangan wedana dan mantra polisi
Jante, jante Arkidam!
Elah dibongkarnya pegadaean malam tadi
Dan kini ia menari'

"Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi."

Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang sepatu

"Mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!"

Hidup kembali kalangan, hidup kembali penjudian
Jante masih menari berselempang selendang
Diteguknya seloki ke sembilan likur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya
Mantra polisi berdiri di sisi kiri:
"Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!"

Digisiknya mata yang sidik
"Mantri polisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak"

Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama
Terbenam tubuh mantra polisi di dasar kali

"Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!"
Teriaknya gaung di lunas malam

Dan Jante di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya

Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tak diperasnya?

Bidang riap berbulu hitam
Ruas tulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tk ditklukannya?
Mulutnya manis jeruk garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi
Jnte terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tngsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang
"Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!"

"Datang siapa yang datang
Kutunggu diatas ranjang"

"Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?"

Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang'

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
"He, lelaki mata badak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?"

Berpaling seluruh mata ke belakang
Djante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu

"Kejar jahanam yang lari!"

Jante dikepung lelaki satu kampong
Di lingkungan kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

"Keluar Jante yang sakti!"

Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul

"Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?"

"Jante? Tak kusua barang seorang
Masih samar dilorong dalam"

"Alangkah eneng bergegas
Adakah yang diburu?"

"Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!"

Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakan dirinya

"He, lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?"

Berpaling lelaki kea rah Jante
Ia telah lolos dari kepungan

Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel