6 Kesalahan Berpikir yang Paling Umum Terjadi di Sekitar Kita

Balerumah.com – Kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa apa yang kita bicarakan dengan berpikir adalah salah satu kesalahan berpikir. Untuk itu, mari sama-sama kita perbaiki. Terdapat 6 kesalahan berpikir yang paling umum terjadi. Apa saja itu? Berikut ulasannya.

1. Hasty Generalization (overgeneralization)
Adalah ketika anda mencoba menggeneralisasikan suatu sampel kejadian yang dalam skala kecil ke dalam skala besar. Misalnya seperti ini: anda seorang wanita sudah berganti pasangan sebanyak 3 kali. Nah kebetulan ketiganya itu adalah pria yang tidak baik.

Via: pixabay
Tapi walaupun hanya 3 kali, dari kejadian itu anda menganggap bahwa semua lelaki itu sama saja. Padahal, 3 situasi itu belum mencerminkan karakteristik pria secara keseluruhan.

Nah, inilah yang dinamakan Hasty Generalization, yaitu ketika anda terlalu cepat menggeneralisasi kejadian dengan ukuran sampel yang kecil.

2. Circular Reasoning
Adalah pengambilan keputusan yang berputar-putar. Misalkan, A itu benar karena B, B itu benar karena A. Cohtoh: Tuhan itu ada karena kitab saya mengatakan bahwa itu ada. Dari mana bahwa kitab itu benar? Yak arena kitab itu ditulis oleh Tuhan. Karena kitab itu ditulis oleh Tuhan, maka Tuhan itu ada. Kenapa harus percaya bahwa Tuhan itu ada? Yak arena kitab saya mengatakan bahwa Tuhan ada.

Begitulah argumennya dari circular reasoning. Sesuai dengan namnya yang diawali dengan kata circular, agrumen ini hanya berputar-putar. Tapi argumennya tidak menyertakan bukti atas klaim yang dikatakan. Jadi hanya berputar-putar terus.

Via: pixabay
3. Slippery Slope
Adalah satu langkah yang membuat langkah lain panjang sekali membuat efek yang signiifikan. Msalah yang membuat argument ini tidak logis yaitu adalah karena langkahnya yang terlalu panjang. Dari A bisa menyimpulkan B, lalu menyimpulkan C, lalu menyimpulkan D, dan seterusnya.

Contohnya seperti argumen ini.

“Gak baliki piring, piring kotor. Piring kotor, gak bisa makan. Gak bisa makan, gak bisa fokus. Gak fokus, gak bisa belajar. Gak bisa belajar, gakbisa lulus ujian. Gak lulus ujian, gak lulus kuliah. Gak lulus kuliah, gak bisa kerja. Gak bisa kerja, gak punya duit, gak punya duit, stress. Kalo stress, penyakitan. Penyakitan, bisa mati.”

Sebenarnya argumen ini berniat baik, dan bercandaan yang punya tujuan supaya orang-orang yang ada di kantin itu balikin piring setiap lepas makan. Stepnya itu sebenarnya cukup panjang, mulai dari piring kotor, sampai mati.

Argumen ini sekilas mungkin masuk akal, tapi sebenarnya gak logis dan terlalu simplistik dengan step step yang terlalu banyak. Sehingga akhirnya penulis itu membuat kesimpulan yang sangat simplistik, yaitu ketika bahwa gak balikin piring, kita bakal mati.

Di atas hanya contoh aja. Lain kali jika melihat argumen dengan step yang banyak, dan gak logis, itulah slippery slope.
Via: pixabay
4. Strawmen
Strawmen artinya orang-orangan sawah. Maksudnya adalah ketika kita menentukan target strawmen, target palsu, yang berupa argumen baru. Nah argumen strawmen ini adalah buatan yang sebenarnya tidak disampaikan oleh lawan. Tapi diciptakan sendiri untuk diserang.

Contohnya misalkan situasi debat calon presiden, capres A mengatakan bahwa ia ingin mengurangi anggaran militer di Indonesia, untuk dialihkan ke anggaran lain. Ketika capres B tiba, ia melawan argumen capres A dengan mengatakan bahwa capres A  ingin membuat Indonesia sama sekali tidak memiliki pertahanan militer.

Nah, di sini capres B mengatakan argumen strawmen. Karena capres B mencoba membuat-buat argumen capres A seakan-akan capres A mengatakan bahwa ia menginginkan negara yang tidak memiliki pertahanan militer. Padahal argumen yang dikatakan capres A adalah bahwa ia ingin mengurangi anggarannya saja, tanpa ingin mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki pertahanan militer sama sekali.

Tapi argumen ini dibuat-buat oleh capres B. Dalam hal ini, capres B telah membentuk strawmen, berupa argumen buatan. Jadi target palsu untuk diserang.

Setelah membentuk argumen tersebut, biasanya orang yang membentuknya akan menyerang argumen tersebut. Dan akhirnya menipu orang-orang yang melihatnya. Jadinya seolah-olah pencipta argumen tersebut telah mematahkan argumen lawannya dengan telak, padahal argumen yang dia lawan adalah palsu.

Sama seperti orang-orangan sawah, argumen tersebut palsu dan bukan argumen asli yang dikatakan capres A.

5. Ad hominem
Adalah suatu argumen yang diberikan ditujukan untuk orang yang jadi lawan bicara. Jadi ad hominem ini malah menyerang karakteristik pribadinya si lawan bicara. Iinilah yang menjadi sesat pikir. Contohnya seperti ini:

Ada orang miskin mengatakan bahwa menjadi kaya dan sukses, bukanlah jaminan orang tersebut akan bahagia. Lalu orang kaya yang mendengar argumen tersebut mengatakan: “Kamu kan miskin, mana mungkin kamu tahu rasanya menjadi orang kaya.”

Inilah yang dinamakan argumen ad hominem, orang kaya yang melawan orang miskin tersebut, tidak melawan argumennya, tapi justru malah menyerang karakteristik pribadi orang tersebut. Yaitu fakta bahwa ia sebenarnya miskin. Kekayaan dan kebahagian tidak dibahas sama sekali.

Tentang kaya atau miskin, bukan berarti argumen yang orang sampaikan itu salah. Bisa jadi si orang miskin tersebut mengatakan yang benar, tentang kekayaan.

Via: pixabay
6. False Dichotomy
Sesuai dengan namanya, false dichotomy adalah ketika kita menganggap bahwa dalam satu argumen, hanya da 2 pilihan. Seperti misalnya: kalau gak baik, ya buruk. Kalau bukan X maka Y. ini yang sering terjadi di kalangan kita.

Misal, anda tidak suka dengan kebijakan presiden A yang sebenarnya merupakan buku kampret. Nah otomatis orang-orang akan menganggap bahwa anda adalah kubu B, kubu cebong. Tapi ketika anda mengkritik presiden B, yang merupakan kubu cebong, orang-orang akan menjustifikasi anda bahwa anda adalah kubu yang kampret. Padahal sebenarnya dunia tak sesempit itu.

Inilah false dichotomy, ketika sebuah argumen hanya menganggap bahwa hanya ada 2 pilihan alternatif, meskipun sebenarnya terdapat banyak. Kalau kita mengkritik kubu cebong nih, bukan berarti anti presiden itu sepenihnya, kan? dan tiba-tiba jadi masuk ke golongan lawannya. Bisa aja kita hanya btidak suka kebijakan yang itu. Tapi kita suka dengan kebijakan lainnya. Dan kita tetap mendukungnya.

Nah, argument ini biasa digunakan orang untuk menghasut kita untuk mengikuti keinginannya. Misalnya: kalau anda tidak ikut demo, nerarti anda kafir dan akan masuk neraka. Tapi kalau anda demo, berabrti anda akan masuk surga.

Demikianlah dari Bale Rumah, apabila artikel ini bermanfaat, silahkan bagikan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel