Apa Itu Puisi Balada? Penyair Wajib Tahu Ini!

Balerumah.com – Puisi balada merupakan puisi jenis baru yang berisi sebuah kisah atau cerita. Lebih tepatnya, puisi ini menceritakan tentang seseorang atau sesuatu. Biasanya, kita sudah bisa melihat dari judul puisinya. Seperti misalnya, Balada Sunyi, Balada Ibu yang Dibunuh, Balada Orang-orang Tercinta. Dan mungkin masih banyak lagi yang sering anda temui pada penyair tertentu.

Via: pixabay
Balada juga tidak serta selalu bercerita tentang seseorang, bisa juga tentang sesuatu. Entah itu kejadian, situasi, atau bahkan peristiwa. Intinya adalah bercerita dalam puisi, menceritakan kembali kisah suatu tokoh dalam bentuk narasi.

Ciri-ciri Balada
1. Berisi kisah atau cerita seseorang atau sesuatu.
2. Terdiri dari 3 bait yang masing-masing memiliki 8 larik.
3. Bersajak a-b-a-b-b-c-c-b, kemudian skemanya berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c.
4. Larik terakhir yang berada pada bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait selanjutnya.

Larik = baris dalam sajak

Namun, ciri-ciri balada ini kini diabaikan. Entah karena kebebasan berkarya, atau mungkin ketidaktahuan. Atau mungkin juga sudah tidak berlaku.

Sekarang, mari kita ambil contoh puisi balada dari beberapa penyair.

Di Hari Kematian Baradita Katoppo
Karya: Goenawan Mohamad

Di hari kematian baradita Katoppo,
ketika lampu mulai dipadamkan,
sebaris kalimat lewat: “Tak ada yang kembali
dari benua itu.”

“Tak ada yang kembali.”
Hamlet, kita ingat,
mengatakan itu, seraya telunjuknya
ia rapatkan pada pintu.

Langit mengeriput. Antara kata dan katakomb,
ia lihat orang-orang berangkat,
dan seseorang mengirim pesan pendek,
“Aku tinggalkan waktu, Tuanku.”

Itu bisa. Itu mungkin bisa.
Sebab di sini, dekat kau dan aku,
kematian selalu menjemput,
bersama asap

di sudut rumah menjelang sore,
dan kabur ke udara
ketika tetangga-tetangga
membakar sampah dan di corong radio

tak ada orang yang butuh berdoa.
hanya sejumlah nada lurus
tapi berkabung.
Dan tak satu pun yang kembali.

Hamlet pun bertanya:
mana yang lebih sedih,
mana yang lebih sederhana:
menanggungkan ombak di gempa laut,

atau memangkas nasib
yang tak adil, atau menyeberangi selat
dan menghilang
ke dalam hijau ganggang?

Di jalan ke pengasingan itu Horatio diam,
meskipun wajahnya menua dan berkata,
Kita ada di sana selalu, Tuanku,
kita ada di sana selalu.

2014

Dongeng Marsinah
Karya: Sapardi Djoko Damono

/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi
ia sangat cermat dan pasti

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
Sekedar hidup layak,
Sebutir nasi.”

/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lengkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
 selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.

/4/
Di hari baik buan baik,
Tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret
dan dicampakkan –
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
Makna pertanyaan?

/5/
“Saya ini Marsinah,
Buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti luka.)

/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.   

1993-1996

Kita bisa menyimak. Dari kedua puisi di atas, tentu memiliki beberapa kesamaan.

1. Berbentuk cerita
2. Ada tokoh yang diceritakan
3. Isi seperti dialog
4. Menceritakan suatu peristiwa
5. Terdapat unsur kesedihan

Balada tidak melulu dengan dialog, bisa juga tanpa dialog, asalkan puisinya naratif. Dengan kata lain, si aku lirik sama dengan sudut pandang pencerita.

Demikian ulasan dari Bale Rumah, semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat. Apabila artikel ini terdapat kesalahan, silahkan berkomentar di bawah. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel