Inilah Perbedaan Pendidikan di Indonesia dan Jerman Beserta Penerapannya

Balerumah.com - Masing-masing tiap negara tentu memiliki caranya sendiri untuk memberikan pendidikan kepada warga negaranya. Tak jarang, sistem pendidikan yang ada pada suatu negara menggambarkan kondisi negara tersebut.

Kali ini, Bale Rumah akan memaparkan sedikit tentang sistem pendidikan di Jerman dan Indonesia. Namun sebelumnya, artikel ini ditulis bukan bermaksud untuk menghakimi atau mengklaim bahwa sistem pendidikan di negara lain lebih baik.

Via: pixabay
Sebab tidak semua sistem atau bahkan kebijakan suatu negara tertentu cocok digunakan di negara kita. Oleh karena itu, anda harus mengenal terlebih dahulu bagaimana sistem pendidikannya.

Jerman merupakan salah satu negara yang diakui sebagai yang terbaik dalam segi pendidikan. Maka dari itu, tak jarang banyak yang mengadopsi pendidikan yang ada di sana. Di bawah ini merupakan perbedaannya.

1. Alur Pendidikan
Siswa sekolah dasar di Jerman hanya menempuh waktu  selama 4 tahun, sedangkan Indonesia selama 6 tahun. Dan semua siswa di sana mendapatkan pelajaran yang sama. Selain itu, di Jerman tidak ada ujian nasional. Nilai akhir siswa ditentukan oleh prestasi selama mengikuti pelajaran.

Di akhir sekolah, guru akan memberikan rekomendasi untuk siswa melanjutkan pendidikannya. Terdapat 3 macam sekolah menengah: Hauptschule, Realschule atau Gymnasium. Guru akan memberikan rekoentasi yang tepat berdasarkan prestasi, minat dan bakat.

Hauptschule dan Realschule lebih cenderung mempersiapkan siswa untuk kerja atau usaha mandiri. Sedangkan Gymnasium untuk mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Mengenai Biaya 
Di Indonesia, biaya sekolah sejak sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah gratis. Bahkan, siswa yang dirasa kurang mampu dalam segi ekonomi bisa menamatkan pendidikannya di SMA. Pada saat SMA, siswa memang akan dipungut biaya perbulan, itu pun sangat terjangkau. Karena sekolah negeri di Indonesia telah mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Sedangkan Jerman, biaya sekolah gratis berlaku sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Perbedaan ini semakin kentara jika kita lihat dari biaya kuliah. Di Indonesia, baik di universitas negeri maupun swasta, mahasiswa diwajibkan membayar uang semester atau SPP hingga belasan bahkan puluhan juta. Alasan mengapa biaya kuliah PTN di Indonesia bisa sangat mahal, karena pemerintah tidak lagi memberikan subsidi.

Berbeda dengan Jerman, di sana hampir semua universitas tidak memungut biaya kuliah, kecuali di dua negara bagian saja. Yaitu di negara bagian Bayern dan Baden Wurttrenberg. Dan kuliah gratis ini berlaku pula untuk mahasiswa asing.

Via: pixabay
3. Istilah Sekolah Unggulan
Kita seringkali pilih-pilih dalam masuk sekolah, seolah sudah ada kelas dan kualitas dari sekolah yang berbeda-beda. Namun, kita tidak bisa lepas dari kenyataan yang benar itu. Orangtua ingin sekali anaknya masuk ke sekolah yang unggul, yang berkualitas, demi masa depan anaknya.

Jika anda ingin tahu, istilah tersebut tidak ada di Jerman. Karena kualitas tiap sekolah disamakan, mulai dari fasilitas, guru, dan kemampuan siswanya. Hal ini sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Sedangkan di Indonesia, kita bisa lihat sendiri. Pada tahun 2019 telah dimulai usaha meratakan kualitas sekolah. Hal ini dimulai dengan adanya sistem zonasi pada penerimaan siswa baru di SMP maupun SMA. Walu demikian, sistem pendidikan di Jerman lebih diakui secara Internasional, namun sistem tersebut tidak semuanya bisa diadopsi ke dalam pendidikan kita. Diperlukan diskusi untuk mengkaji lebih dalam mengenai penerapan sistem pendidikan tersebut.

Demikianlah ulasan dari Bale Rumah, di sini kami hanya memberikan gambaran atau referensi bagaimana Jerman menerapkan pendidikan. Kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.

4. Tujuan Pendidikan
Dalam pendidikan di Indonesia, siswa dididik mulai dari moral, etika dan agama, serta peneraoannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga hal tersebut mendapatkan pengajaran yang cukup besar. Siswa diajarkan bagaimana cara sopan santun terhadap guru dan lain sebagainya, agama pun demikian. Selain itu, siswa juga mendapat bimbingan dari orangtua maupun guru.

Berbeda dengan pembelajaran di Jerman. Di sana lebih mengutamakan kepada kemandirian. Pendidikan di sana menuntut kepada tiap individu untuk mampu berpikir kreatif, logis dan mampu bertanggung jawab. Itu sebabnya mengapa anak di Jerman diberikan kebebasan untuk mengembangkan dirinya dan tidak serta merta dibimbing oleh orangtua dan guru.

Anak-anak di jerman bisa dikatakan tidak terlalu mengutamakan pendidikan agama, mereka punya cara masing-masing untuk hidup dan bersosialisi.

5. Wajib Belajar
Tiap negara memiliki aturannya masing-masing menyoal waktu berapa lama wajib belajar. Di sini, Indonesia dan Jerman sama-sama menerapkan wajib belajar selama 9 tahun. Ketika selesai menempuh wajib belajar, siswa Indonesia kebanyakan melanutkan ke jenjang lebi tinggi seperti SMA dan SMK.

Hal itu trntu berbeda dengan Jerman. Setelah wajib belajar dalam usia kurang lebih 15 tahun, kebanyakan dari mereka lebih memilih magang selama 3 tahun. Bukan hanya mendapatkan pengalaman kerja saja, siswa juga sudah mampu mendapatkan gaji selama menjalani magang.

Baca juga: Penyebab Rendahnya Literasi di Indonesia yang Sering Diabaikan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel