Jenis Sudut Pandang dalam Karya Tulis Fiksi

Sudut pandang merupakan ekspresi yang dituliskan oleh penulis dengan gaya masing-masing. Secara garis besar, ada 4 jenis sudut pandang.  Mulai dari sudut pandang orang pertama, kedua, ketiga dan campuran.
Gambar oleh StockSnap dari Pixabay
Sudut pandang juga berfungsi untuk menempatkan diri seorang penulis dalam naskah yang dibuatnya. Sudut pandang biasa disebut dengan POV (point of view). Dalam naskah puisi, cerpen novel, naskah drama dan naskah fiksi lainnya, POV sangat diperlukan dan diperhatikan agar pembaca pun dapat memahaminya.

Jenis Sudut Pandang dalam Karya Fiksi
Sebagai penulis, penting mengetahui jenis-jenis sudut pandang, supaya naskah yang ditulisnya terstruktur dan mampu mengikat perasan pembaca.

1. Sudut pandang orang pertama
Orang pertama yang menjadi sudut pandang, itu artinya menggunakan  'Aku' lirik dalam penulisan naskah. Penulis sebisa mungkin memposisikan diri sebagai 'Aku' yang diciptakan dalam tulisan. 

Contoh:
Hujan turun, aku masih berdiam diri sambil mendengar lagu pop tahun 90an. Ada yang aneh ketika aku bernyanyi, lagu tak lagi terdengar. Ternyata sejak tadi, belum kutekan tombol play pada audio musik itu.

Ada juga yang menggunakan 'kami' untuk sudut pandang orang pertama jamak. Biasanya, untuk menceritakan pengalaman dan perjalanan. Kami bejalan ke arah utara, tidak menemukan apa-apa, selain hanya kebun teh yang luas.

2. Sudut pandang orang kedua
Di sini, penulis menjadi seorang narator yang menceritakan tentang seseorang. Sudut pandang ini sering juga digunakan dalam penulisan cerita, yang mana menggunakan kata ganti orang kedua. Seperti kamu, kau, kalian.

Selain itu, penulis sebisa mungkin menjadikan pembaca sebagai orang pertama, dan menghindari kata aku. Misalnya: kau telah tinggalkan semua yang ada di sini, tanpa ingin membenahi kembali. kau pergi tanpa pamit bersama orang lain. 

Ada juga kata ganti 'kalian' sebagai kata ganti yang jamak. Misal: kalian tak tahu malu, sudah banyak melakukan kesalahan masih saja yang ada yang mau mengaku. sekarang, kalian semua pergi!

3. Sudut pandang orang ketiga
Penulis menceritakan tokoh atau kejadian menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti dia, ia atau menyebut nama. Dimana penulis berada di luar wilayah kejadian yang diceritakannya. Misal: dia begitu cantik, bermata sayu, ucapannya santun, dan akhlaknya baik. lelaki mana yang tak mau menghampirinya?

Ada juga sudut pandang ketiga jamak. Yaitu menggunakan kata 'mereka' untuk menyebutkan beberapa tooh yang diceritakannya. Misal: Chairil, Asrul dan Rivai, mereka yang berada garda depan peloporan puisi Indonesia tahun 1945. Dari ketiganya, Chairil yang paling menonjol.


4. Sudut pandang campuran
Pada penulisan ini, penulis menaruh 'aku' pada setiap karakter yang diceritakan. Kadang menempatkan diri ke posisi kedua, atau bahkan ketiga. Sudut pandang ini biasa digunakan dalam naskah yang panjang seperti novel.

Misal: aku pernah datang ke rumahmu, dan melihat semua yang terjadi. aku merasa empati karena kamu selama ini tak pernah menceritakan siapa dirimu yang sebenarnya. meskipun kau juga pernah cerita: hidupku baik-baik saja.

Dari keempat jenis sudut pandang tersebut, tentunya masih terbagi lagi. Namun secara garis besar, dapat dilihat dari keempat ini. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel